Rabu, 24 Februari 2010
NAFSU
JAGALAH HATI
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ” [QS. ar-Ruum (30): 30]
Sesungguhnya setiap manusia terlahir di Dunia ini dalam beragama Islam. Rosulullah bersabda, “tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala) (HR. Bukhari).
Hal tersebut lantaran sebelum dilahirkan, ketika berbentuk ruh, manusia diambil persaksiannya bahwa Allah SWT adalah Tuhannya [QS. al-A’raaf (7): 172-173]. Namun Allah SWT menutup ingatan tersebut, sehingga manusia lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa [QS. an-Nahl (16): 78]. Sebagai gantinya, Allah SWT memberi hidayah berupa hati. Di mana secara fitrah, hati adalah refleksi ruh yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itu sebabnya ketika melakukan kebajikkan, hati akan merasa tentram. Sebaliknya, ketika melakukan dosa, hati akan resah dan gelisah.
Rasulullah SAW bersabda: Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)
Hati terbagi atas tiga kondisi: sehat, sakit, dan mati. Hati yang sehat akan dengan tegas membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara hati yang sakit masih terjadi tarik menarik antara yang baik dan yang buruk. Sedangkan hati yang mati akan dengan mudah mengatakan yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik.
Perlu diperhatikan, hati yang sehat akan menjadi sakit dan mati jika tidak dijaga kesehatannya. Layaknya kaca yang ditempeli debu, bila tidak segera dibersihkan, maka debu akan menjadi banyak dan lama-lama menjadi kerak. Alhasil, tidak cukup sekali usap untuk membuat kaca tersebut kembali bersih. Pun begitu dengan hati yang tertutup dengan dosa. Karena secara teknis, satu perbuatan dosa akan diikuti perbuatan dosa lainnya.
Indikator baik dan buruk adalah hati. Rasulullah pernah bersabda, “…Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Maka dari itu, jangan pernah mengabaikan suara hati. Pun seperti kata Aa’ Gym, “Jagalah hati, jangan kau kotori…”
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Illahi
Bila hati kian bersih, pikiran pun kian jernih
Semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Ahlak kian terpuruk, jadi mahluk terkutuk
Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh
Bila hati kian lapang, hidup sempit tetap senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya makin rumit
Seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit
Bila hati kian bening, ingat Allah amat sering
Airmata tak pernah kering, munajat dikala hening
Tapi bila hati nista, berkatapun penuh dusta
Hina diperbudak harta, jadi malapetaka
Bila hati bertawadhu, hidup indah semanis madu
Ahlak menawan qolbu, berpisahpun selalu dirindu
Namun bila hati takabur, dadanya berdebur debur
Seakan sehebat guntur, akhirnya masuk kubur
Hati-hati dengan hati
Hati-jangan kau nodai
Hati-hati dengan hati
Hati-jangan kau kotori
Lencana Facebook
NAFSU
NAFSU:Jauh tak terduga ia datang,dekat tak terbayang ia selalu berteman, dalam hati dan kehidupan. Membuat jantung berdegub kencang dan membuat terpana yang merasakan. Nafsu, sebuah kata pendek, tajam bermata dua. Nafsu bisa menghantarkan kebaikan, dapat menjerumuskan kesesatan. Kelola hati niscaya nafsu terkendali. Dengan tali iman dan aqidah semua menjadi indah.
JAGALAH HATI
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ” [QS. ar-Ruum (30): 30]
Sesungguhnya setiap manusia terlahir di Dunia ini dalam beragama Islam. Rosulullah bersabda, “tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala) (HR. Bukhari).
Hal tersebut lantaran sebelum dilahirkan, ketika berbentuk ruh, manusia diambil persaksiannya bahwa Allah SWT adalah Tuhannya [QS. al-A’raaf (7): 172-173]. Namun Allah SWT menutup ingatan tersebut, sehingga manusia lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa [QS. an-Nahl (16): 78]. Sebagai gantinya, Allah SWT memberi hidayah berupa hati. Di mana secara fitrah, hati adalah refleksi ruh yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Itu sebabnya ketika melakukan kebajikkan, hati akan merasa tentram. Sebaliknya, ketika melakukan dosa, hati akan resah dan gelisah.
Rasulullah SAW bersabda: Mintalah fatwa (keterangan hukum) kepada hati dan jiwamu. Kebajikan ialah apa yang menyebabkan jiwa dan hati tentram kepadanya, sedangkan dosa ialah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada walaupun orang-orang meminta atau memberi fatwa kepadamu. (HR. Muslim)
Hati terbagi atas tiga kondisi: sehat, sakit, dan mati. Hati yang sehat akan dengan tegas membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara hati yang sakit masih terjadi tarik menarik antara yang baik dan yang buruk. Sedangkan hati yang mati akan dengan mudah mengatakan yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik.
Perlu diperhatikan, hati yang sehat akan menjadi sakit dan mati jika tidak dijaga kesehatannya. Layaknya kaca yang ditempeli debu, bila tidak segera dibersihkan, maka debu akan menjadi banyak dan lama-lama menjadi kerak. Alhasil, tidak cukup sekali usap untuk membuat kaca tersebut kembali bersih. Pun begitu dengan hati yang tertutup dengan dosa. Karena secara teknis, satu perbuatan dosa akan diikuti perbuatan dosa lainnya.
Indikator baik dan buruk adalah hati. Rasulullah pernah bersabda, “…Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Maka dari itu, jangan pernah mengabaikan suara hati. Pun seperti kata Aa’ Gym, “Jagalah hati, jangan kau kotori…”
Jagalah hati jangan kau kotori
Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai
Jagalah hati cahaya Illahi
Bila hati kian bersih, pikiran pun kian jernih
Semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih
Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Ahlak kian terpuruk, jadi mahluk terkutuk
Bila hati kian suci, tak ada yang tersakiti
Pribadi menawan hati, ciri mukmin sejati
Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh
Seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh
Bila hati kian lapang, hidup sempit tetap senang
Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang
Tapi bila hati sempit, segalanya makin rumit
Seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit
Bila hati kian bening, ingat Allah amat sering
Airmata tak pernah kering, munajat dikala hening
Tapi bila hati nista, berkatapun penuh dusta
Hina diperbudak harta, jadi malapetaka
Bila hati bertawadhu, hidup indah semanis madu
Ahlak menawan qolbu, berpisahpun selalu dirindu
Namun bila hati takabur, dadanya berdebur debur
Seakan sehebat guntur, akhirnya masuk kubur
Hati-hati dengan hati
Hati-jangan kau nodai
Hati-hati dengan hati
Hati-jangan kau kotori
Posted at 03.33 | Label: NAFSU |






0 komentar on "NAFSU"
Posting Komentar